Rabu, November 17, 2010

Objek Wisata yang terdapat di Provinsi Maluku


MUSEUM SIWALIMA
Museum Siwa Lima memiliki koleksi antara lain benda-benda peninggalan sejarah, rumah adat dan pakaian adat Maluku. Dari museum ini pengunjung dapat melihat panorama yang indah sekitar Kota Ambon

TUGU DOLAN
Doolan terletak di dekat kawasan Kudamati dan merupakan tugu peringatan bagi tentara Australia yang tewas bertempur di daerah ini

COMMONWEALTH WAR CEMETERY
Di Tantui terdapat Commonwealth War Cemetery yang merupakan lokasi pemakaman lebih dari 2000 tentara Sekutu berkebangsaan Australia, Belanda, Inggris dan India yang tewas dalam berbagai pertempuran di Sulawesi dan Maluku pada masa Perang Dunia ke-2. Pemakaman ini memiliki taman yang indah.

MONUMEN PATTIMURA
Pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah ini. Monumen yang dibangun di pinggir sebuah lapangan olah raga ini adalah lokasi di mana Pattimura yang nama aslinya Thomas Matulessy, seorang putra dari Pulau Saparua dan pengikutnya menjalani eksekusi hukuman gantung

MONUMEN MARTHA CHRISTINA TIAHAHU
Di kawasan Karang Panjang terdapat monumen Martha Christina Tiahahu yang juga adalah seorang pejuang kemerdekaan Maluku. Ayah Tiahahu adalah pendukung perjuangan Pattimura melawan Belanda. Ia kemudian ditangkap dan dieksekusi di Pulau Nusa Laut dan Tiahahu dibuang ke Jawa. Ia memprotes tindakan Belanda dengan melakukan aksi mogok makan hingga tewas, jenazahnya kemudian dibuang ke laut

GEREJA TERTUA DI KOTA AMBON
Wisatawan dapat mengunjungi Soya Atas yang berada di lereng Gunung Sirimau (950m). Di sini terdapat gereja protestan yang sangat tua dengan bentuknya yang unik, konon dibangun pada tahun 1546.

PUNCAK GUNUNG SIRIMAU
Dari puncak Gunung Sirimau wisatawan dapat menyaksikan panorama yang indah ke arah Kota Ambon. Ditempat ini Di tempat ini terdapat tempayan setan yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan kepada pengunjung

PANTAI NATSEPA
Natsepa yang berada di kawasan Teluk Baguala terdapat Taman Rekreasi Natsepa Indah yang memiliki lokasi pantai yang indah dan perairan yang menyenangkan untuk berenang. Pada hari libur lokasi pantai ini selalu ramai dikunjungi orang. Tidak jauh dari tempat ini terdapat Taman Lunterse Boer yang juga memiliki pantai yang menarik.

TAMAN LUNTERSE BOER
Taman ini terletak dekat pantai natsepa dan juga memiliki pantai yang sangat menarik

KOLAM WAISELAKA
Desa Waai yang terletak di kawasan pantai timur Pulau Ambon juga memiliki lokasi pantai yang indah namun tempat ini juga terkenal dengan Kolam Waiselaka yang menjadi habitat hewan belut dan disebut-sebut dapat memberikan keberuntungan bagi pengunjung yang melihat hewan ini. Belut-belut berada di dasar kolam di balik bebatuan. Penduduk setempat memancing belut agar mau muncul ke permukaan dengan menggunakan umpan telur

PULAU POMBO
Di lepas pantai, di timur laut Pulau Ambon terdapat sebuah pulau kecil Pulau Pombo yang memiliki lokasi perairan yang sangat bagus untuk menyelam karena airnya yang jernih dan keindahan alam bawah air dengan terumbu karang serta dihiasi dengan flora dan fauna laut. Lokasi ini menjadi kawasan cagar alam Taman Pulau Pombo yang dilindungi.

PANTAI NAMALATU
Pantai Namalatu berhadapan dengan Laut Banda, terletak disebelah Selatan Pulau Ambon, di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, tepatnya 15 km dari pusat kota Ambon. Kata Namalatu sendiri berasal dari kata Nama dan Latu yang berarti Nama dan Raja. Desa Latulahat adalah sentra produksi batu bata yang dibuat secara tradisional oleh masyarakat dan sudah berlangsung secraa turun temurun. Perajin perahu cengkeh, cindramata khas Maluku juga terdapat di desa ini. Desa ini juga memiliki pantai dengan taman lautnya yang indah sehingga cocok untuk berenang, snorkeling dan menyelam. Lokasi ini juga merupakan tempat memancing yang ideal. Pantainya yang berpasir putih dan sebagian berkarang. Pada bulan Maret/April muncul laor (lycde Oele) sejenis cacing laut yang ditimba beramai-ramai di malam hari dengan menggunakan nyiru dan diterangi obor. Penerangan obor sepanjang pesisir pantai menjadi pemandangan malam yang sangat indah.

PANTAI LELISA
Pantai Lelisa terletak di Desa Latulahat, bersebelahan dengan pantai Namalatu yang sudah dilengkapi dengan fasilitas penginapan dan cottage serta restoran.  Pantai Lelisa memiliki formasi karang sampai ke pantai dan memberikan pemandangan yang khas saat pasang surut. Merupakan tempat berenang yang aman dan merupakan tempat rekreasi yang populer bagi masyarakat Ambon

PANTAI FELAWATU
Pantai Felawatu terletak di Airlow, sebelah Timur Desa Latulahat, Selatan Pulau Ambon sekitar 15 km dari pusat kota Ambon. Pantai ini menawarkan tempat pertemuan untuk diskusi, seminar dengan suasana yang tenang. Dilengkapi pula dengan fasilitas penginapan, restoran dan tempat rekreasi. Di desa Naku juga memiliki pantai yang indah dipinggiran laut Banda dengan air yang jernih dan tempat yang ideal untuk menyelam dan berselancar. Di sekitar pantai ini ada Anihang, air terjun setinggi 15 meter dan juga ada gua yang disebut Liang Kupang, berlokasi di Tanjung Kecil. Tempat ini merupakan tempat persembunyian tentara pada masa Perang Dunia ke II dan banyak ditemukan tulang manusia di gua ini. Setiap tahun desa ini dibersihkan dengan cara tradisional.

TANJUNG SETAN
Tanjung Setan yang merupakan titik tempat memulai penyelaman untuk menikmati keindahan terumbu karang. Terletak di Desa Morela, sebelah Utara Pulau Ambon

PANTAI HUNIMUA
Pantai Honimua yang terletak di jazirah Hitu, Pulau Ambon dengan pasir putihnya sepanjang 4 km. Airnya sangat jernih untuk berenangdan untuk mencapai pantai ini bisa menggunakan kendaraan umum

PINTU KOTA
Pintu kota merupakan obyek wisata alam lainnya terletak antara Desa Airlow dan desa Seri di bagian Pulau Ambon yang dikelola oleh masyarakat setempat. Benda unik berbentuk gapura yang terbentuk dari tebing terjal batu karang yang sebagian tertutup air ketika pasang dan terbuka di saat air surut. Obyek wisata ini ramai dikunjungi kalangan remaja yang menyukai petualangan dan hiking melewati jalan setapak menuju Pintu kota. Ada pula jalan setapak lainnya menuju Pintu Kota sekaligus menikmati pemandangan alam Laut Banda yang terkenal sebagai salah satu laut yang terdalam di dunia

WISATA AIR PANAS HATUASA
Di desa Tulehu yang merupakan suatu desa adat sekaligus ibukota Kecamatan Salahutu sekitar 25 km dari Ambon dimana terdapat beberapa sumber air panas dan sebuah kolam air tawar. Obyek wisata Air Panas Hatuasa terletak dua km dari terminal Tulehu yang dikembangkan penduduk sejak tahun 1996. Suhu air panasnya mencapai 50 derajat celcius-80 derajat celcius Konon air panasnya dapat menyembuhkan penyakit rematik dan penyakit kulit. Tersedia fasilitas ruang ganti dan MCK sederhana.

KOLAM AIR WAILATU
Kolam air Wailatu terletak di Desa Tulehu dengan luas kolam sekitar 1.500 meter persegi yang airnya dimanfaatkan masyarakat untuk mandi dan cuci. Di kolam ini juga hidup sejumlah belut raksasa yang menarik perhatian pengunjung untuk melihat atraksi pemberian makan. Ikan yang berasal laut dapat hidup bersama belut panjang sekitar 1-1,5 meter dengan diameter 10 cm. Belut ini keluar dari persembunyiannya apabila diberi umpan makanan

BENTENG AMSTERDAM
Benteng Amsterdam yang berada di kawasan pantai utara di dekat Hila dan Kaitetu dengan panorama pantai yang indah. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1512 namun kemudian diambil alih oleh Belanda pada awal abad ke-17. Benteng yang memiliki museum kecil ini telah mengalami perbaikan secara menyeluruh dan menjadi salah satu benteng paling terpelihara di Maluku

GEREJA IMANUEL (GEREJA TERTUA DI INDONESIA)
Gereja Immanuel Protestan yang diduga sebagai gereja tertua di Indonesia. Gereja ini dibangun Portugis pada tahun 1580 namun diambil alih oleh Belanda 200 tahun kemudia, Hila

MASJID WAPAUE
Masjid Wapaue yang dibangun pada tahun 1414 di dekat Gunung Wawane. Menurut legenda masjid ini dipindahkan ke tempatnya sekarang pada tahun 1664 dengan menggunakan kekuatan gaib

KAREL SADSUITUBUN (1928 1965)


Karel Satsuitubun lahir di Ramadian (Tual) Maluku Tenggara tanggal 14 Oktober 1928. Ia bersekolah pada SD Kristen Katolik sejak tahun 1935 dan tamat tahun 1941. Sejak kecil ia telah anti Belanda karena ketidakadilan terhadap pamannya seorang mantan tentara KNIL, dan hal inilah yang mendorongnya memasuki dinas Angkatan Kepolisian Republik Indonesia.

Pada tahun 1951 setelah diterima menjadi anggota kepolisian, ia bertugas di Ambon. Dalam kariernya sebagai anggota kepolisian (Brigade Mobile) ia pernah bertugas di Ambon, Sulawesi, Sumatera, Yogyakarta dan Irian jaya. Di Ambon setelah bertugas, Karel mengikuti Sekolah Polisi Mobile Brigade (SPMB) Megamendung (Bogor). Kemudian mengikuti Latihan Penyegaran I di Ambon dalam rangka menumpas RMS. Dua kali ditugaskan di Sumatera Utara (Aceh) dalam menumpas pemberontakan DI / TII yang dipimpin oleh Daud Beureeh. Kemudian di Sulawesi menumpas DI / TII yang dipimpin Kahar Muzakark. Dua kali ditugaskan di Sumatera Barat menumpas pemberontakan PRRI. Kemudian ditugaskan di Irian Barat (Trikora) untuk pembebasan wilayah ini dari penjajahan Belanda. Juga bertugas dalam pengamanan GANEFO I Jakarta. 

Terakhir ditugaskan selaku pengawal rumah kediaman Waperdam II Dr. S. Leimena. Di sinilah Karel Satsuitubun gugur karena serangan gerombolan penculik G 30S PKI. Karel gugur sebagai seorang patriot dan pahlawan. Dan pemerintah menghargainya dengan menganugerahi bintang “REPUBLIK INDONESIA KELAS III” dengan gelar “PAHLAWAN REVOLUSI”.

WILLEM JOHANNES LATUMETEN (1916 – 1965)


Willem Johanes Latumeten lahir tanggl 16 April 1916 di Saparua. Ia keturunan keluarga besar Latumetena dari Desa Rutong di Pulau Ambon dan adalah putera sulung dari Prof. DR. Y. A. Latumeten, tokoh pejuang dan ahli penyakit jiwa. Pendidikan ELS di Sabang tahun 1930, HBS di Malang tahun 1937, Geneeskundige Hogeschool  (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.
Pengabdian beliau dimulai sejak zaman revolusi fisik sampai pengisian kemerdekaan, baik di Kementrian Penerangan maupun di Departemen Olahraga ataupun sebagai Pembina Olahraga. Mulai bekerja pada Kementrian Penerangan Jakarta permulaan tahun 1946. Pertengahan tahun 1947 memimpin surat kabar “Het Nieuws Blad”. Selaku Kepala Pewartaan / Press Service  Kemper RIS mulai tahun 1950 dan merangkap juru bicara Departemen Penerangan.

Pada zaman RI menjadi Kepala Bagian Pewartaan Kementrian Penerangan merangkap Juru Bicara. Pada tahun 1958 diperbantukan pada Menteri Penerangan dan tahun 1962 ditugaskan ke Departemen Olahraga sebagai Pembantu Khusus Menteri Olahraga.

Usaha-usahanya sebagai pembina olahraga antara lain  :  mendirikan Sekolah Tinggi Olahraga di Jakarta, membentuk keorganisasian olahraga (PERBASI), membina para atlet untuk terjun ke ASEAN GAMES IV yahun 1962 dan GANEFO tahun 1963, menjadi Sekretaris Umum Komite Olympiade Indonesia Pusat (1955 – 1964). Willem Johanes Latumeten adalah juga seorang pejuang dan nasionalis sejati. Dalam perundiangan antara Indonsia dengan Belanda, sering bertindak sebagai juru bicara delegasi Indonesia. Willem Johanes Latumeten meninggal dunia 23 Maret 1965, dan sebagai pahlawan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta. Karena jasa-jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi pemerintah “LENCANA BAKTI

HERMAN PIETERS (1924 – 1998)


Purnawirawan Kolonel Infantri Herman Pieter lahir di Ambon tanggal 12 Desember 1924 dari keluarga besar Pieters di Desa Eri (Nusaniwe) Pulau Ambon. Pendidikan yng diraihnya adalah Sekolah Teknik Elektro di Surabaya dari tahun 1939 – 1942. Kemudian pada tahun 1954 sampai tahun 1955 dan tahun 1961 sampai 1962 mengikuti Sekolah Staf Pimpinan Angkatan Darat.

Karier beliau sebagai seorang militer dan seorang pejuang dapat dicatat sebagai berikut  :

§    Asisten Gubernur Militer pada komperensi Linggarjati dan Komperensi Renville antara Indonesia dan Belanda (1945 – 1948) dan sekaligus Perwira Penghubung membantu Perdana Menteri Sultan Syahrir. Ikut dalam perang gerilya melawan Belanda di Jawa Timur (Surabaya dan Malang) dalam Divisi Pattimura.

§    Anggota Panitia Pertimbangan Gencatan Senjata dengan Belanda di Malang, Mojokerto dan Surabaya (1948 – 1949) dan Panitia Militer Negara Indonesia Timur di Makassar.

§    Menumpas Pemberontakan Andi Azis di Makassar dan RMS di Maluku (1950 – 1953), kemudian menjadi Asisten Komandan Teritorium VII dan Perwira Peradilan Pengadilan Militer di Ambon (1953 – 1956).

§    Komandan Residen Infantri 25 Maluku dan Daerah Militer Maluku dan Irian Barat (1956 – 1957) dan Komandan Kodam XV Pattimura (1957 0 1959). Tahun 1958 menjabat Perwira Hakim pada Pengadilan Daerah Militer di Makassar.

§    Aisten D-II dari Kepala Staf Angkatan Darat (1961 – 1962). Tahun 1963 pensiun Angkatan Darat (ABRI)a dan menjadi Presiden Direktur PT. Kora-Kora.

§    Anggota MPR RI dari Golkar tahun 1977 dan 1983 – 1987.

Meninggal dunia tahun 1998 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tanda jasa dan penghargaan dari negara antara lain  :  BINTANG GERILYA, BINTANG SETYA LENCANA AKSI MILITER I dan II, BINTANG SETYA LENCANA SAPTA MARGA, BINTANG SETYA LENCANA KESETIAAN, BINTANG MEDALI GARUDA I / MESIR, BINTANG SEWINDU, BINTANG GOM II, III dan IV

ABDUL MUTHALIB SANGAJI


Abdul Muthlib Sangaji lahir di keluarga besar Sangaji dari Pulau Haruku. Menamatkan pendidikan dasar pada Sekolah Belanda HIS dan pendidikan menengah MULO. Abdul Muthlib Sangaji tidak lagi melanjutkan studi lebih tinggi dan segera terjun dalam dunia politik. Ia masuk organisasi politik “Sarekat Islam” (SI) dan bergabung dengan kedua tokoh politik SI, yaitu Haji Agus Salim dan H. O. S. Tjokroaminoto.

Di SI Abdul Muthlib Sangaji terkenal sebagai juru pidato yang ulung dalam menggerakkan semangat perjuangan kemerdekaan. Setelah H. O. S. Tjokroaminoto meninggal dunia, maka Sarekat Islam mulai retak. Abdul Muthlib Sangaji dan Agus Salim mengundurkan diri dan mendirikan Penyadar sebagai suatu partai baru.
Partai baru ini diperkuat tokoh-tokoh muda seperti Sarjan dan Mohammad Roem. Abdul Muthlib Sangaji kemudian pindah ke Makassar dan Samarinda (Kalimantan). Di kedua tempat ini ia terus mengobarkan semangat perjuangan dan pidato-pidatonya dinilai pemerintah Belanda sangat berbahaya.

Ia ditangkap dan dipenjarakan. Kemudian dilepaskan dari penjara dan ikut lagi dalam perjuangan para revolusi fisik. Bersama tokoh-tokoh pejuang lainnya, Abdul Muthlib Sangaji pindah ke Jogyakarta dan berjuang di sana. Di ibukota perjuangan ini, ia meninggal sebagai seorang pejuang dan pemerintah RI menghargai jasa-jasanya sebagai salah seorang “PERINTIS KEMERDEKAAN”

ALEXANDER JACOB PATTY (1901 – 1957)


Alexander Jacob Patty lahir pada tanggal 15 Agustus 1901 di Desa Nolloth Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Patty di negeri Nolloth Pulau Saparua. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya pada “Saparoeasche School” di kota Saparua, Alex melanjutkan studinya ke Surabaya dan memasuki sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsche Indische Aartsens School). Baru pada tingkat pertama Alex sudah dikeluarkan dari sekolah karena sifat dan tingkah lakunya yang ekstrim. Ia tidak senang dengan Pemerintah Belanda karena politik diskriminasi terhadap kaum militer Ambon dalam KNIL.

Pada tahun 1919, Alex pindah ke Semarang dan mulai aktif dalam dunia kewartawanan. Pertama kali mendirikan Perkumpulan Kemakmuran Rakyat Ambon (Maluku). Kemudian karena perkembangan gerakan kebangsaan, organisasi yang bersifat sosial ini ditinggalkan oleh Patty dan mendirikan organisasi baru yang bersifat politik yaitu “Sarekat Ambon” pada tanggal 9 Mei 1920 dan membawa ide organisasi ini ke dalam ide Nasionalis Indonesia. Pada tahun 1922, A. J. Patty masuk dalam “Radikale Consentratie” (gabungan partai radikal). Sifat-sifat radikal dan revolusioner Patty, ditentang oleh para rekannya dari “Ambonsche Studie Fonds”, namun ia tetap membawa Sarekat Ambon dalam semangat kebangsaan Indonesia. Ide Sarekat Ambon terus disiarkan melalui majalah Mena Muria dan di kota-kota besar di Jawa dibuka cabang Sarekat Ambon.

Sarekat Ambon juga mempunyai bagian khusus untuk wanita, yaitu organisasi “Ina Tuni”. April 1923, A. J. Patty memperkenalkan ide Sarekat Ambon kepada masyarakat Ambon. Sesuai kondisi didirikan dahulu suatu Komite Sarekat Ambon dan A. J. Patty segera berkeliling ke negeri-negeri mempropaganda ide Sarekat Ambon. Tahun 1924, Patty berhasil dipilih sebagai anggota Ambon Raad dan di lembaga perwakilan ini ia mulai memperjuangkan nasib rakyat, namun politiknya ditentang keras oleh para raja, yaitu “Regenten Bond”. Ia dituduh berbahaya oleh pemerintah, padahal rakyat sangat simpatik pada Sarekat Ambon. Karena dituduh melanggar hukum (adat) dan menghasut rakyat, ia ditangkap dan ditahan oleh Asisten Residen. Kemudian dibawa ke Makassar dan diadili oleh “Raad van Justitie”. Setelah dihukum, tahun 1942, Patty diringkus ke Bengkulu (Suamatera) kemudian ke Boven Digul (Irian Jaya) sampai pecah Perang Dunia II. Pada masa Jepang, dapat meloloskan diri ke Australia dan pada masa revolusi kemerdekaan, berjuang bersama Bung Karno dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan RI. Alexander Jacob Patty meninggal dunia di Badung pada tanggal 15 Juli 1947. Tokoh pejuang ini dihargai sebagai seorang “PERINTIS dan PEJUANG KEMERDEKAAN”

ELIZA URBANUS PUPELLA (1910 – 1996)


Eliza Urbanus Pupella dilahirkan dari suatu keluarga guru pada tanggal 24 April 1910 di Desa Hila Pulau Ambon. Ia keturunan dari keluarga Pupella di Desa Amahusu Pulau Ambon. Setelah menamatkan pendidikan dasar pada “Europeesche Lagere School” di Ambon, Eliza melanjutkan studinya ke Makassar (Ujung Pandang) dan masuk sekolah “MULO”. Setelah tamat belajar di MULO, Eliza langsung bekerja pada perusahaan minyak pelumas Belanda (BPM). Jiwa nasionalisme yang diwarisi dari ayahnya mendorong ia segera terjun ke dunia politik dan aktif dalam zaman pergerakan nasional. Ia mulai aktif di organisasi “Yong Ambon” dan “Sarekat Ambon” dan Partai Indonesia Raya (PARINDRA) yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pupella dipecat pemerintah Belanda dan pindah ke Bali tahun 1930. Di Bali ia aktif lagi dengan teman-teman seperjuangan di sana dan dipecat lagi. Tahun 1933 kembali ke Makassar, kemudian pada tahun 1934 ke Jogyakarta dan belajar di Perguruan Nasional “Taman Siswa” yang dipimpin Ki Hajar Dewantara. Setelah kembali ke Ambon, Pupella mendirikan “Balai Pendidikan” yang berazas nasionalisme seperti Taman Siswa. Di Ambon ia kembali aktif dalam bidang politik dan memimpin organisasi politik “Sarekat Ambon” cabang Ambon, dan berjuang dengan rekan-rekannya di lembaga “Ambon Raad” melawan organisasi-organisasi sosial dan politik yang pro Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang, Pupela diangkat oleh pemerintah militer Jepang untuk mengatur masyarakat Ambon karena ia mempunyai wibawa baik terhadap masyarakat Kristen maupun Islam. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Pupella meneruskan perjuangan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan rekan-rekannya ia berjuang di Ambon dan Makassar. Sebagai anggota Parlemen NIT (Negara Indonesia Timur) ia terkenal sebagai tokoh yang melikuidir “Negara Bagian” ini ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian Elisa Urbanus Pupella menjadi anggota Parlemen RIS dan DPR Ri (1950 – 1956) mewakili rakyat Maluku. Wadah perjuangannya adalah organisasi politik PIM (Partai Indonesia Merdeka) dan PNI (Partai Nasional Indonesia). Pada usia lanjutnya, Bapak E. U. Pupella masih tetap mengabdi pada masyarakat sebagai seorang wiraswasta. Pupella meninggal dunia pada tanggal 16 Agustus 1996 di Ambon, karena jasa-jasa dan pengabdiannya ia dihargai dan diakui sebagai “ TOKOH PEJUANG DAN PERINTIS KEMERDEKAAN INDONESIA”